Menyongsong “Jalur Sutera” Transportasi Laut Indonesia

JIKA GAGASAN konektivitas enam pelabuhan domestik bisa diwujudkan, Indonesia akan memasuki babak baru dalam mewujudkan tata logistik nasional. Target pemerintah untuk menurunkan biaya logistik hingga di bawah 10 persen di tahun 2015 bukan satu hal yang tidak mungkin dicapai lebih cepat. Jalur logistik ini mengingatkan kita pada “Jalur Sutera” antara Cina dan Eropa pada abad ke-3 SM di mana pada waktu itu lalu lintas perdagangan tumbuh dengan pesat. Yang membedakannya, jalur transportasi yang digunakan saat itu melalui jalur darat, sedangkan untuk jalur transportasi ini melalui laut.

Kelak jika jalur ini terwujud, kita akan melihat arus lalu lintas perdagangan nusantara yang jauh lebih efisien. Semua jalur terkoneksi dalam satu-kesatuan dalam mendukung pertumbuhan ekonomi nasional.  Pada gilirannya, potensi laut sebagai pemersatu bangsa akan bisa diwujudkan.

Adalah Direktur Utama PT Pelindo II, RJ Lino yang memiliki gagasan brilian tersebut. Konsepnya, pengembangan enam pelabuhan domestik yang masuk dalam koridor utama angkutan peti kemas nasional (main sea corridor).    Konsepnya pengembangan jalur angkutan laut kontainer nasional dengan kapasitas minimum pelabuhan bisa melayani kapal ukuran 3.220 twentyfoot equivalent units (TEUs).

Keenam pelabuhan yang termasuk dalam koridor utama tersebut adalah Belawan,  Batam,  Tanjung Priok Jakarta,  Tanjung Perak Surabaya,  Makassar,  dan Sorong. Dilihat dari sisi pengelolaan ke-6 pelabuhan tersebut melibatkan seluruh perusahan pengelola pelabuhan dari mulai Pelindo I hingga Pelindo IV.

Sebagaimana diketahui, dalam ajang 10th Asean Ports and Shipping 2012 Exhibition and Connference, CEO BUMN Inovatif terbaik tahun 2011 tersebut mengungkapkan jalur tersebut tak ubahnya jalan tol di laut. Masing-masing pelabuhan terkoneksi ke jalur pendulum tersebut. Menurutnya, sejauh ini usulan skema tersebut sudah mendapatkan lampu hijau pemerintah.  Diharapkan proyek ini bisa dimulai sambil menjalankan proyek terminal Peti Kemas Kalibaru atau New Priok Port yang ditargetkan selesai 2014.

Sebagaimana dikutip sejumlah media, proyek main sea corridor itu akan direalisasikan dengan merenovasi pelabuhan seperti di Belawan dan Makassar dengan meningkatkan kedalaman hingga minus 14 m dan alur minus 13 m.  Nilai investasi renovasi itu diperkirakan sekitar Rp 1,5 triliun.

Dalam proyek itu,  hanya ada pembangunan pelabuhan baru yakni di Sorong,  Papua,  yang diproyeksikan menjadi pendulum bagi angkutan di wilayah timur.  Untuk proyek pelabuhan Sorong diperkirakan menelan dana sekitar Rp 1 triliun.  Khusus Pelabuhan Sorong,  PT Pelindo II segera membangun pelabuhan itu pada Agustus 2012 jika pembebasan lahan tuntas.

Sejauh ini, gagasan untuk membentuk main sea corridor mendapat tanggapan positif dari Kamar Dagang dan Industri (Kadin). Organisasi pelaku usaha ini berharap proyek tersebut bisa segera diimplementasikan. Kadin akan mendorong Pelindo II agar program perluasan Kalibaru perlu dipercepat karena sudah  mendesak. Selain itu, program pengembangan enam pelabuhan domestik sebagai koridor utama angkutan peti kemas (main sea corridor) dari Barat ke Timur sebagai jalan tol laut angkutan container/peti kemas harus terus  dikembangkan.

Kadin berharap program enam pelabuhan domestik sebagai koridor utama untuk angkutan peti kemas memungkinkan kapal besar dapat melayani pelabuhan itu dapat diintegrasikan dengan angkutan sea short shipping alur jarak pendek,  sehingga keluhan daerah yang tidak terlayani kapal besar untuk mengangkut muatan dari daerah tersebut dapat terlayani.

Dukungan Pemerintah

Gagasan brilian seperti diungkapkan Direktur Utama PT Pelindo II RJ Lino mutlak harus mendapat dukungan pemerintah. Langkah ini merupakan solusi untuk menekan tingginya biaya logistik di Indonesia. Anggaran 1,5 Triliun tidaklah besar jika dibandingkan dengan dampak positif yang ditimbulkan dari keberadaan main sea corridor tersebut.

Dukungan serta komitmen yang sama juga dibutuhkan dari seluruh pengelola pelabuhan di koridor tersebut sebagaimana semangat menjadikan pelabuhan sebagai gerbang pertumbuhan ekonomi nasional.*** – moch rizki ramadhan -