Prosedur Cargo Transhipment di Pelabuhan Tanjung Priok

achyar abdul muthollib ok

SOAL PROSEDUR  cargo transhipment di seluruh pelabuhan di Indonesia khususnya Tanjung Priok tentu masih terbilang sedikit yang tahu betul bagaimana mekanismenya selama ini. Untuk itu, reporter Indonesia Shipping Times, belum lama ini mewawancarai Sekretaris INSA JAYA, Achyar Achyar Abdul Muthollib.

Menurutnya  layanan cargo transhipment di Tanjung Priok  selama ini memang melalui sejumlah tahapan.  Proses cargo transhipment membutuhkan waktu 3 sampai 7 hari. Waktunya bisa lebih jika pengurusan cargo transhipment tidak conneting vessel (tidak sejalan dengan jadwal) kapal feeder domestik yang akan membawa ke pelabuhan tujuan.

“Setahu kami dalam hal layanan cargo transhipment di Priok, pertama pihak MLO (pelayaran luar negeri) yang membawa kontener impor ke Indonesia melapor ke KPU Bea Cukai, satu hari sebelum sandar atau bongkar di Pelabuhan Tanjung Priok, di sini perlu waktu 1 hari,” ujarnya.

Setelah kapal tiba di Priok, pihak agen MLO mengurus Dokumen BC. 1.1, bayar PNBP (Penerimaan Negara Buka Pajak) dan menyampaikan original  b/l kepadan KPU BC Priok.

“Kemudian Agen MLO melapor kembali ke KPU BC setelah satu hari kapal sandar di dermaga  terminal petikemas. Dalam laporan itu Agen MLO mengurus dokumen BC. 1.2. yang memerlukan waktu antara 3 hingga 4 hari,” katanya.

Kalau pengurusan Dokumen BC 1.2, kata Achyar, dilakukan pada hari Kamis atau Jumat, biasanya akan ada pengajuan (pengurusan) kepada pada Hari seninnya, karena sistem tidak menerima.

“Kemudian kalau pada proses pengurusan  Dokumen BC.1.2 , kapal (feeder) domestik ternyata dijadwalkan harus berangkat ke pelabuhan tujuan pada Hari Minggu, maka proses cargo transhipment harus menunggu datangnya kapal yang sudah berangkat tersebut. Kalau kapal feeder itu tujuan Makassar maka berati agen MLO harus menuggu seminggu lagi baru proses cargo transhipmentnya  dapat dilakukan,” katanya.

Menurut Achyar, Agen MLO tidak bisa mengubah kapal feeder yang telah diajukan sebelumnya ke kapal feeder lain. “Sehingga  untuk cargo transhipment harus menunggu kapal yang sama sandar kembali di dermaga terminal petikemas,” ungkapnya.

Dalam masa menunggu kapal feeder itulah, ada storage yang tentunya membutuhkan biaya.

Cargo transhipment yang kena storage, untuk jangka waktu 1 sampai 3 hari dikenakan biaya Rp.17.500 untuk kontener 20 feet. Untuk masa 4-5 hari maka dikenakan tarif storage sebesar 100 persen  menjadi Rp. 35.000 per kontener  ukuran 20 feet. Dan kalau masa storage di atas 6 hari maka dikenakan biaya storage 300 persen per hari atau sebesar Rp. 52.500 perhari untuk kontener ukuran 20 feet,” jelasnya.

Kemudian lanjut Achyar, pada tahap feeder, maka  agen MLO akan lapor (lagi) ke BC (Outward). “Dalam tahapan ini, age MLO diminta melengkapi sejumlah dokumen lainnya antara lain dokumen kepemilikan barang impor, dokumen API (Angka Pengenal Impor), packing list dan membayar kembali PNBP (Penerimaan Negara Bukan Pajak), kepada Bea Cukai,” kata Achyar.

Ketika proses ini semua selesai dilakukan, saat tahapan feeder cargo transhipment pun ada biaya trucking ketika ada pemindahan cargo transhipment dari terminal petikemas international ke dermaga domestik untuk selanjutnya dimuat ke kapal feeder domestik.

 “Biaya trucking cargo transhipment itu pun menjadi beban MLO atau agen MLO yang ada di Indonesia,” ujarnya. (ST).