Transformasi PELINDO Menuju Pelabuhan Modern

ipc lomba

JAKARTA-Guna mendorong pertumbuhan ekonomi nasional terlebih menghadapi persaingan pasar global yang sudah di ambang pintu, PT Pelabuhan Indonesia (Pelindo) I-IV (Persero) hingga kini terus melakukan transformasi bisnisnya.

Seperti diketahui pelabuhan merupakan pintu gerbang ekonomi yakni menjadi tempat kegiatan ekspor-impor maupun perdagangan antar daerah bagi Indonesia yang berbentuk kepulauan.

Dengan kata lain, kegiatan kepelabuhanan turut menentukan tinggi rendahnya biaya logistik nasional, sehingga sejak awal upaya menekan biaya logistik hingga 10 persen pada tahun 2015 mendatang.

Suka atau tidak, hingga kini masih banyak pengguna jasa yang mengeluhkan soal biaya logistik yang dinilai paling tinggi di kawasan ASEAN. Persoalan infrastruktur, Pungli (pungutan liar) atau pungutan tidak resmi dan hingga keterbatasan sarana dan prasarana pelabuhan menjadi penyebabnya.

Data  yang berkembang di publik menyebutkan bahwa biaya logistik di Indonesia saat ini mencapai 15% lebih, bila dihitung dengan masih banyaknya Pungli (Pungutan Liar) yang salah satunya terjadi di pelabuhan.

Penyebab tingginya biaya logistik pelabuhan  itu karena terjadinya waiting time (waktu tunggu barang di pelabuhan). Di Tanjung Priok misalnya, barang yang sampai ke pelabuhan hingga dimuat ke kapal atau sebaliknya dari proses bongkar barang hingga keluar dari areal pelabuhan memerlukan waktu 4,9 hari bahkan lebih.

Bila dibandingkan dengan waktu tunggu di Pelabuhan lainnya seperti Jepang hanya memerlukan waktu 3,1 hari. Di Belanda hanya membutuhkan waktu 1,1 hari, Amerika 1,2 hari dan bahkan Singapura hanya perlu 1,0 hari. Perbedaan waktu tunggu yang mencolok antara Indonesia dengan negara lain itu menggambarkan belum efisiennya layanan logistik di negeri ini.

Tingginya waiting time itu, berdampak pada mahalnya ongkos kirim barang, misalnya ongkos pengiriman satu peti kemas  dari  Padang ke Jakarta sebesar Rp 5,4 juta, padahal ongkos pengiriman yang sama dari Jakarta ke Singapura hanya Rp1,8 juta.

Maka tak heran kalau di tahun 2010 lalu, peringkat Logistics Performance Index (LPI) Indonesia terpuruk ke peringkat 75 dari 183 negara. Meski kemudian naik diperingkat 59 pada pertengahan 2012 lalu.

 

Untuk mengatasi tingginya biaya logistik yang melalui pelabuhan tersebut, salah satu upaya yang kini terus dilakukan adalah melakukan pembenahan sistem dan operasional termasuk melakukan transformasi bisnis.

Di sisi lain transfromasi kepelabuhanan mendesak dilakukan seiring dengan arus perdagangan global seperti rencana pemberlakuan ASEAN Economic Community (AEC) pada 2015 mendatang.

Agar perseroan yang bergerak di bidang jasa kepelabuhanan itu tetap tumbuh berkembang bahkan bisa bersaing dengan pelabuhan-pelabuhan negara tetangga bahkan dunia, tak ada pilihan kecuali terus melakukan transformasi atau perubahan bisnis.

Transformasi kepelabuhanan di Indonesia menjadi tugas wajib bagai manajemen Pelindo I-IV pasca terbitnya terbitnya Undang-undang No.17 tahun 2008 tentang pelayaran. UU 17/2008 mengatur agar Pelindo I-IV lebih fokus menjadi operator pelabuhan. Dalam arti lain UU 17/2008 telah merubah mindsite pengelolaan Pelindo hanya sebagai operator saja, tidak lagi sebagai regulator seperti periode  sebelumnya.

Berbagai langkah transformasi yang selama ini dilakukan Pelindo I-IV mulai dari peningkatan kapasitas pelabuhan, produktifitas usaha dengan menambah peralatan bongkar muat, mutu pelayanan dengan membangun sistem logistik hingga peningkatan kualitas SDM (Sumber Daya Manusia).

Seperti transformasi yang telah dilakukan Pelindo II, yang secara faktual nampaknya dimulai dengan merubah brand dari Pelindo menjadi IPC atau Indonesia Port Corporation pada Februari 2012 yang lalu.

Sejak perubahan brand waktu itu, seakan menjadi titik tolak bagi IPC untuk bergerak lebih agresif menjadi penyedia jasa kepelabuhanan bertaraf international, sehingga diharapkan dapat memberi kontribusi besar terhadap pertumbuhan perekonomian nasional.

“Kami (IPC) sebagai operator pelabuhan dituntut untuk lebih memegang peranan dalam rantai logistik Indonesia. Untuk itu kami harus bergerak lebih cepat, efektif dan efisien dalam melayani kebutuhan para pelanggan atau pengguna jasa kepelabuhanan baik lokal maupun dunia dengan semangat ‘Energizing Trade, Energizing Indonesia,” ungkap Lino saat launching brand IPC waktu itu.

Sejak itu juga kata Lino, pihaknya secara terus-menerus melakukan transformasi bisnis pada dua sisi yaitu membangun infrastruktur dan pengembangan SDM. “Dari sisi infrastruktur, kami terus meningkatkan kapasitas layanan kepelabuhanan dengan perluasan lahan dan penambahan alat bongkar muat bertekhnologi modern,” ungkap Lino.

Perluasan lahan itu sendiri, kata Lino, sudah dimulai sejak tiga tahun terakhir dengan melakukan alih fungsi terhadap beberapa gudang dan gedung perkantoran menjadi lapangan penumpukan barang dan petikemas. “Dengan alih fungsi lahan itu, sampai akhir tahun 2012 lalu, kapasitas Priok bertambah sebesar 20 persen,” ujarnya.

Bahkan kata Lino, penambahan kapasitas juga dilakukan melalui pembangunan Terminal Petikemas Kalibaru Utara yang belakangan dikenal dengan sebutan New Priok dengan nilai inveatasi Rp. 22 triliun lebih.

“Pembangunannya sudah kami mulai sejak turunnya Perpres (Peraturan Presiden) No.36 tahun 2012 yang menugaskan kepada kami IPC/Pelindo II untuk membangun sekaligus mengoperasikan Terminal itu mulai tahun depan (2014),” imbuhnya.

Transformasi IPC dibidang SDM, kata Lino dilakukan dengan mengirim SDM potensial untuk melanjutkan pelatihan dan pendidikan master terkait kepelabuhanan baik ke lembaga pendidikan dalam maupun luar negeri.

“Tak ada arti, tranformasi atau pembenahan sarana dan prasarana infrastruktur tanpa dibarengi peningkatan kualitas SDM, Karenanya kurang lebih sudah 50 pegawai Pelindo II telah diberi beasiswa master di luar negeri,” kata Lino.

Menurut Lino, secara organisastoris, peningkatan mutu SDM Pelindo menjadi kunci utama dalam menggerakkan roda perusahaan. “Kami menyadari transformasi tidak bisa dipisahkan dengan pengembangan SDM menuju tenaga professional,” ujarnya.

Di samping itu, kata Lino, Pelindo II mengubah sistem promosi karyawan dari berdasarkan senioritas menjadi berpedoman pada prestasi. “Hasilnya, sudah ratusan pegawai yang dipromosikan karena prstasi kerja. Jadi saya hanya ingin tunjukkan bahwa cuma karyawan terbaik saja yang bisa naik dan tak ada lagi istilah senioritas,” tegas Lino.

Diharapkan dengan peningkatan mutu SDM, kata Lino akan menjadikan IPC makin produktif menghadapi persaingan ketat perdagangan bebas. “Kalau semua semua sudah terpenuhi, transformasi IPC/Pelindo bukan lagi sebuah planning di atas kertas tetapi bukti nyata menuju world class port,”tegasnya.

Selain itu, kata Lino, IPC/Pelindo II juga telah meremajakan perlatan bongkar muat seperti crane bertekhnologi modern berupa Gantry Hib Crane, QCC Twin, dan RMCG dilakukan di Pelabuhan Panjang, Pontianak, Teluk Bayur, Pangkal Balam, dan Palembang.

“Kita telah investasi pengadaan alat-alat produksi di lapangan sampai semester awal tahun 2012 sekitar Rp 789 miliar. Kami terus berupaya untuk meningkatkan pelayanan di seluruh cabang pelabuhan kami,” ujarnya.

Dari aspek tekhnologi informasi, kata Lino juga telah menjadi perhatian perseroan yang dipimpinnya. “Kita telah meningkatkan penerapan layanan berbasis Information and Communication Technology (ICT). Dengan telah membangun system windows dan service level di seluruh wilayah kerja IPC yang memungkinkan pemilik barang untuk mengetahui slot waktu dan tempat sandar kapal serta tracking proses pengurusan izin, yang diharapkan mampu mengurangi antrian kapal serta penumpukan barang di pelabuhan,” katanya.

Dengan sistem ICT berbasis web secara online di seluruh cabang Pelindo. Itu kata Lino maka seluruh tahapan pelayanan, mulai dari permintaan, perencanaan, pelaksanaan, monitoring hingga sistem pembayaran dapat direncanakan dan dikontrol melalui suatu sistem yang terintegrasi.

“Dengan kata lain, adanya sistem terintegrasi online akan mempermudah akses bila ingin memesan barang atau yang lainnya, karena cukup lewat internet saja sudah bisa mendapatkan kepastian kapan kargo bisa diantar atau ada space tidak hari ini,”ungkapnya.

Sistem ICT itu sendiri kata Lino dioperasikan bekerjasama dengan PT Telkom adalah memangkas ongkos logistik  yang tinggi dan bisa memonitor keberadaan barang. Karena selama ini, sistem tracking masih dilakukan sendiri-sendiri dan belum terintegrasi sehingga menyulitkan para pemain untuk memonitor sampai dimana pergerakan barang miliknya.

Babak Baru

Dan memasuki tahun ular air (2013) ini, transformasi bisnis IPC/Pelindo nampaknya memasuki babak baru dengan didirikannya sejumlah anak perusahaan untuk menjalankan seluruh bisnis Pelindo II secara lebih fokus.

“Pendirian sejumlah anak perusahaan sejak 19 November tahun lalu itu, merupakan rangkaian dari tranformasi bisnis yang kami agendakan. Kita ingin perusahaan yang semula bekerja secara basis regional kita tingkatkan menjadi berbasis bisnis, Dari yang semua hanya dilingkup regional (wilayah kerja) kita tingkatkan hingga pasar luar negeri,” ungkapnya.

Lima anak perusahaan yang sudah diresmikan pada 19 november tahun lalu itu, kata Lino, mulai dari PT Indonesia Kendaraan Terminal, PT Energi Pelabuhan Indonesia, PT Integrasi Logistik Cipta Solusi (ILCS). PT Jasa Peralatan Pelabuhan Indonesia, PT Pengembang Pelabuhan Indonesia (PPI).

“Dengan sejumlah anak perusahaan diharapkan mampu meningkatkan kinerja perseroan karena lebih fokus pada bidangnya masing-masing, yang pada ujungnya akan membawa IPC melangkah lebih jauh ke dalam kompetisi jasa kepelabuhanan global, melalui penyediaan jasa kepelabuhanan yang lengkap dan menyeluruh,” ungkap Lino.

Menurut Lino, IPC sebagai perusahaan induk berharap anak-anak perusahaan ini dapat berinovasi menyediakan layanan yang efektif dan efisien, mendukung layanan sandar kapal dan bongkar muat barang sebagai produk utama jasa kepelabuhanan.

Karena itu, kata Lino di tahun ini juga pihaknya kembali akan membentuk delapan anak perusahaan baru yakni PT Pusat Studi Maritim dan Logistik Indonesia, PT IPC Terminal Petikemas, PT Jasa Armada Indonesia, PT Terminal Petikemas Indonesia, dan PT Pelabuhan Tanjung Priok.

“Di tahun ini, kita juga akan membentuk tiga perusahaan baru lainnya yakni yakni PT Terminal Curah Indonesia, PT IPC Logistik Indonesia, dan PT Sarana Pengerukan Indonesia,”kata Lino.

Berbagai langkah transformasi IPC/Pelindo II itu, salah satunya mendapat apresiasi positif dari Ketua Dewan Pelabuhan Tanjung Priok (Port Cauncil Of Indonesia), DR. Sungkono Ali. Menurutnya, langkah tranformasi bisnis oleh IPC/Pelindo II saat ini sangat positif karena sebagai perusahaan jasa kepelabuhanan terbesar di Indonesia Pelindo II harus bisa mengimbangi perkembangan bisnis global.

“Kalau IPC/Pelindo tidak melakukan transformasi bisnis bisa ketinggalan, bahkan tidak menutup kemungkinan peluang bisnis di sektor jasa kepelabuhanan saat ini akan dimanfaatkan pemain asing,” ungkapnya.

Seperti bisnis depo kontener, Sungkono mencontohkan, saat ini 60 persen ‘dipegang pemain asing’ atau PMA (penanaman modal asing). “Secara hitung-hitungan bisnis, lebih baik perusahaan nasional yang lebih dulu menangkap peluang bisnis yang terbuka dipasar dalam negeri saat ini ketimbang perusahaan asing,” imbuhnya.

Hal senada juga dikemukakan Capt. Alleson, Ketua INSA Jaya. Menurutnya, dengan tranformasi bisnis IPC/Pelindo II saat ini sangat tepat karena akan meningkatkan kapasitas pelayanan kepada customer salah satunya bagi pelaku usaha pelayaran nasional.

“Pelaku usaha pelayaran selama ini menginginkan agar pelayanan di pelabuhan terus ditingkatkan seperti kecepatan bongkar muat barang, sehingga kapal ssemakin singkat waktunya di pelabuhan, yang berarti akan menambah pendapatan pelayaran,”ungkapnya.

Pendirian sejumlah anak perusahaan baru oleh IPC/Pelindo itu juga mendapat tanggapan dari Sungkono Ali dan Capt. Alleson. Menurut mereka, pasca UU 17/2008 tentang Pelayaran,.Pelindo I-IV murni hanya sebagai operator pelabuhan, sehingga ada perubahan mind-site pengelolaan pelabuhan menjadi lebih kepada berbasis bisnis, sehingga pendirian belasan anak perusahaan baru sebagai salah satu cara yang tepat untuk menjalankan peran itu secara optimal.

Hanya saja kata Sungkono, perlu diperhatikan berkenaan dengan fungsi dan kontrol IPC/Pelindo II selaku induk perusahaan kepada seluruh anak perusahaannya. “Jangan sampai desentralisasi bisnis dari induk kepada anak perusahaan malah tidak membawa profit atau bahkan sampai memunculkan masalah baru dikemudian hari,” kata Sungkono.

Pendirian sejumlah anak perusahaan oleh IPC/Pelindo II harus tetap memperhatikan para mitra kerjanya. “Anak-anak perusahaan IPC/Pelindo II harus tetap memberi kesempatan kepada perusahaan-perusahaan swasta di lingkungannya untuk berusaha di sektor yang sama selama ini,” kata Alleson.

Menurut Alleson, sejak launching sejumlah anak perusahaan IPC/Pelindo, ada kecurigaan dari para pengguna jasa di lingkungan Pelabuhan Tanjung Priok. “Tak terbantahkan saat ini ada kecemasan dari para pengguna jasa di Priok, kalau-kalau kedepan Pelindo akan memonopoli bisnis kepelabuhanan dari hulu ke hilir,” ungkap Alleson.

Kecurigaan itu kata Sungkono sesuatu yang wajar di tengah persaingan bisnis yang semakin ketat saat ini. “Mungkin pihak IPC/Pelindo II belum sempat menjelaskan kepada para stake-holders, sehingga memunculkan banyak salah persepsi. Sebab setahu saya, sejumlah anak perusahaan IPC/Pelindo II bukan akan mengambil pasar bisnis yang sudah ada saat ini, tetapi mereka (ILCS) hanya penyedia jasa sistem logistiknya,”ujarnya.

Pelabuhan Modern

Bila dicermati, publik luas pun dapat memahami berbagai bentuk transformasi bisnis IPC /Pelindo ini selama ini nampaknya akan bermuara pada layanan jasa pelabuhan modern atau layanan pelabuhan bertaraf international.

Dengan kata lain, kata Sungkono, ketika bersama anak-anak perusahaannya saat ini IPC/Pelindo II akan semakin fokus menjalankan berbagai bisnisnya. “Dalam arti fokus pada apa yang dibutuhkan customer lokal maupun dunia, bukan sebaliknya,” katanya.

Kemudian, layanan IPC/Pelindo yang semuanya akan dilakukan dengan sistem pun menjadi bukti  untuk mendukung tujuan besar menjadikan Pelabuhan Tanjung Priok sebagai Pelabuhan Modern.

“Buktinya adalah layanan berbasis ICT (Information and Communication Technology) yang nampaknya diserahkan pengelolaannya kepada salah satu anak perusahaan IPC/Pelindo II, PT ILCS (Integrasi Logistik Cipta Solusi), merupakan pola layanan sebagaimana  telah dijalankan  berstandar international yang selama ini diterapkan oleh banyak pelabuhan berkelas dunia seperti Pelabuhan Tanjung Pelepas Malasia dan Pelabuhan Singapura,” ungkap Sungkono.

 

Diceritakan Sungkono, dalam sejumlah kunjungan dirinya bersama rombongan KADIN ke Pelabuhan Tanjung Pelepas dan Pelabuhan di China, di lapangan hampir semua dilakukan oleh sistem, sehingga areal pelabuhan sepi, tak tampak orang hilir mudik seperti yang terjadi di pelabuhan – pelabuhan Indonesia,” ujarnya.

Karena semua sistem yang bekerja, kata Sungkono maka produktifitas pelabuhan di luar negeri sangat tinggi. “Mungkin bisa dua kali lipat dari produktifitas Pelabuhan Indonesia saat ini. Demikian halnya dengan dwelling time juga bisa dipersingkat antara 1 hingga 3 hari saja,” imbuhnya.

Dengan peningkatan kapasitas Priok ditambah dengan Terminal Kalibaru Utara tentu menjadi syarat atau standar pelabuhan modern pun terpenuhi. “Kapasitas atau throughput sebuah Pelabuhan Modern paling sedikit bisa mencapai 10 Juta TEUs. Nah, dengan selesainya Terminal Kalibaru Utara kelak, maka total kapsitas Pelabuhan Tanjung Priok bisa mencapai 11 Juta TEUs (twenty feet equivalent units),” ujar Sungkono.  (SAIFUL ANAM).