Bani Mulia, Dirut PT Samudera Indonesia Tangguh: Berusaha Demi Kejayaan Bangsa

bani mulia

RAMAH dan low profile. Kesan itu muncul saat berbincang dengan sosok muda di dunia pelayaran Indonesia ini. Meski usia terbilang muda, namun kemampuannya mengelola perusahaan pelayaran sekaliber Samudera Indonesia sudah terbukti. Terlebih lagi dirinya mewarisi kemampuan sang pendiri perusahaan pelayaran nasional terkemuka tersebut. Ya, sosok bernama Bani Mulia itu memang merupakan cucu pendiri perusahaan, Soedarpo Sastrosatomo yang akrab dipanggilnya dengan sebutan Eyang Darpo.

Saat Indonesia Shipping Times melakukan wawancara di kantornya Gedung Samudera Indonesia di bilangan Slipi Jakarta Barat, suasana berlangsung hangat dan akrab serta tetap fokus pada topik pembicaraan. Menurut sosok lulusan Fakultas Ekonomi Universitas Indonesia itu, sebagai pengendali jalannya perusahaan, dirinya tidak semata berfikir tentang cara mengembangkan bisnis perusahaan pelayaran Samudera Indonesia yang meliputi sektor pelayaran, galangan, terminal peti kemas, bongkar muat, forwarding, pergudangan dan lainnya. Lebih luas dari itu, berupaya memberikan kontribusi yang besar terhadap bangsa dan negara.

Karena itu, dia bertekad pertumbuhan bisnis Samudera Indonesia juga dibarengi dengan terbukanya lapangan kerja yang seluas-luasnya bagi warga masyarakat Indonesia di seluruh penjuru tanah air. Dengan demikian, keberadaan Samudera Indonesia yang kini memiliki 25 kantor cabang di seluruh Indonesia dan 6 cabang di luar negeri benar-benar dirasakan dan bermanfaat bagi masyarakat.

“Sejak awal visi saya tidak jauh dari keinginan memberikan berkontribusi pada negara ini dengan membuka lapangan pekerjaan bagi masyarakat. Karena itulah di tahun ini kita terus melakukan investasi dalam bentuk pembelian kapal baik untuk melayani internasional maupun domestik,” katanya.

Menurutnya, keberadaan perusahaan yang dipimpinnya saat ini tidak hanya untuk kepentingan perusahaan semata, tetapi harus bermanfaat bagi semua orang.

“Dengan demikian terpenuhi syarat terjadinya hablumminallah dan hablumminannas yakni hubungan kita kepada Allah Swt, dan hubungan kita terhadap sesama manusia,” ungkap pria yang dikenal sebagai sosok religius ini.

Saat ini karyawan Samudera Indonesia sekitar 3500 orang dan jika ditambah dengan karyawan BUMNBU (Badan Usaha Milik Ngrumat Bondo Utomo) maka total karyawan sedikit di atas 4000 orang.

“Kita terus melakukan investasi sumber daya manusia untuk terus mengembangkan perusahaan,” ujarnya.

Investasi sumber daya manusia ini (SDM) berangkat dari analisa yang dilakukan perusahaan. Ke depan, menurutnya, Samudera Indonesia sedikitnya perlu didukung oleh 10 ribu karyawan yang akan membesarkan Samudera Indonesia yang telah mempunyai 25 Kantor Cabang di seluruh Indonesia dan 10 kantor cabang di luar negeri saat ini.

Dengan dukungan SDM yang memadai itu, dirinya optimis misi Samudera Indonesia yang sejak awal di-desain sebagai perusahaan yang melayani total logistics system (TLS) akan betul-betul terwujud.

Seiring dengan pengadaan SDM itu, investasi kapal pun harus dipenuhi.

“Untuk tahun ini, kita sudah membeli 4 unit kapal International dan domestics termasuk Kapal Sinar Jombang yang berkapasitas 400 TEUs yang kita beli  senilai US $ 4 juta,” katanya.

Menurutnya, investasi pengadaan kapal tetap harus dilakukan meski market di dunia international saat ini tertekan sejak terjadinya krisis global di kawasan eropa beberapa waktu lalu.

“Jangan lupa, meski Eropa dilanda krisis, market muatan dalam negeri akan terus bertumbuh sehingga kita bisa memberikan kontribusi lebih di pasar domestik,” jelasnya.

Ditambahkannya, pembelian Kapal Sinar Jombang itu sejalan dengan asas cabotage yang diperjuangkan INSA sejak awal.

“Tidak hanya itu saja, pembelian impor kapal juga sejalan dengan Peraturan Menteri Keuangan (PMK) tentang biaya masuk impor nol persen,” tuturnya.

Dengan pembelian KM Sinar Jombang yang akan melayani muatan kontener di kawasan Indonesia Barat itu, maka secara global kepemilikan kapal Samudera Indonesia itu untuk seluruh layanan sebanyak 60 kapal terdiri dari 50 unit kontener dan non kontener 20 unit. (SAIFUL ANAM).

editor: Ratna Intan Safitrie